Menghitung Nikmat


Neighbour

Neighbour

Judulnya adalah menghitung nikmat. Nikmat? Apakah nikmat itu berwujud? Sepikirku, tidak yaa. Bagaimana menurutmu?

Menurut pendapatku nikmat ternyata tidak dapat dihitung, karena tanpa wujud. Walaupun demikian, kita terus perlu menghitung nikmat, menghitung-hitungnya, lalu menelusurinya. Karena menghitung nikmat, adalah salah satu aktivitas yang sangat menyenangkan. Apalagi kalau kita dalam suasana yang penuh dengan kekalutan pikiran. Sungguh, menghitung nikmat adalah satu aktivitas yang dapat kita lakukan.

Dengan menghitung nikmat yang kita punya, maka kita akan segera tersadarkan. Bahwa, ternyata sangat banyak nikmat yang seakan terlewatkan oleh kita. Ya, nikmat yang belum kita sadari. Padahal ia sudah membersamai kita semenjak mula. Dan mengembalikan ingatan padanya, adalah kemestian, saat kita benar-benar kalut. Wah! Pagi-pagi, sudah kalut. Bagaimana dengan siang harinya? Lalu sore, dan seterusnya?

Bukan lagi hal yang luar biasa, apabila kita pernah mengalami apa itu kalut. Kalut yang berarti ketidakberesan yang kita alami. Terus memberikan perhatian pada kekalutan, akan mengakibatkan kita tidak dapat lagi menghitung nikmat yang kita miliki. So, yuuks ah, kita berhitung.

Salah satu nikmat yang mungkin saja kita lupa padanya, adalah keadaan yang sedang kita alami saat ini. Keadaan. Yah. Bagaimana kondisimu saat ini, teman? Baik lingkungan yang berada sangat dekat denganmu, dekat sekali. Perhatikanlah sesiapa saja yang menjadi tetanggamu. Ingatlah wajah mereka satu persatu. Lalu, kapan terakhir kali engkau bersapaan dengan beliau semua? Bagaimana rasa yang engkau alami pada saat yang sama? Apakah engkau berbahagia menjalani kebersamaan tersebut? Dan yang lebih penting lagi, apakah tema obrolanmu bersama beliau setiap kali berbincang setelah bersapa? Tema apakah yang engkau bahas bersama beliau?

Berkisah tentang tetangga, saya mempunyai satu pesan. Tadi malam. Ya, tadi malam kami berbincang bersama. Perbincangan yang menghadirkan pesan. Dan akhirnya, pesan tersebut menjadi judul pada catatan pagi ini. Tentang menghitung nikmat.

Terkadang, kita seakan merasa bahwa kita adalah orang yang paling sengsara. Kita butuh dikasihani, kita perlu dimengerti oleh sesama. Padahal, kalau kita mau tahu, maka kita dapat mengetahui. Bahwa, sesama akan mengasihani kita, mengerti dan memahami kita, kalau telah mendapatkan izin dari Allah. Nah! Bagaimana bisa, kita menyalahkan sesiapa, kalau ada harapan yang sedang kita bangun dan belum terwujud. Sedangkan semua itu kita haturkan pada sesama. Bagaimana bisa?

Hanya saja, kita perlu mengembalikan ingatan kepada-Nya tentang hal ini. Kita yang berada dekat dengan sesama, kita yang hidup bertetangga, dan yang lebih dekat lagi adalah dengan Allah. Sapalah Dia terlebih dahulu sebelum kita bersapaan dengan tetangga. Ungkapkan apa yang kita pinta lebih awal pada-Nya, sebelum kita menyerahkan pengajuan pada sesama. Begitu seterusnya. Agar kita tidak mempunyai kesempatan lagi untuk mengomel dan berpikiran yang tidak semestinya, pada sesama. Apalagi terhadap tetangga sendiri. Karena, kita telah menyadari, bahwa atas izin Allah, kita mengalami hal yang serupa. Dan tetangga kita menjadi jalan untuk sampaikan pesan dari-Nya. Bahwa, ternyata harapan kita belum menjadi kenyataan. Dan kita mengetahui melalui beliau.

Harapan kita belum menjadi kenyataan, mungkin masih ada yang salah dengan apa yang kita lakukan. Kesalahan yang mungkin saja sudah kita sadari lebih awal, ataukah belum. Dan kita baru mengetahuinya setelah ada yang memberi tahu hal tersebut kepada kita. Kalau kita sudah menyadari semenjak semula, maka kita dapat memperbaikinya segera. Dengan segala kemauan yang kita upaya, kita pun segera berbenah.

Berbeda halnya, ketika kita belum menyadarinya. Nah, saat ada yang memberi tahu akan hal tersebut, maka kita perlu menerima dengan senang hati. Tidak banyak lho, orang yang mau memberitahu kesalahan secara langsung kepada orang yang bersangkutan. Sungguh, betapa beruntungnya kita apabila beliau yang tahu kesalahan kita, menyampaikan kepada yang bersangkutan. Itulah keberanian yang sejati. Sungguh, apabila hal ini benar-benar teraplikasi dengan baik, maka tidak akan ada lagi yang namanya “Rumpi – dengan tetangga”. Tidak akan ada perbincangan yang tidak perlu. Malah yang ada, kita saling menghitung nikmat. Kita menghitung-hitung sikap. Kita mencari tahu kesalahan kita terlebih dahulu, sebelum memperbincangkan kesalahan orang lain.

Sungguh…. bertetangga dengan orang yang baik, aku sangat suka. Tetangga yang dapat mengingatkan ku betapa detik-detik waktu kita sangat berharga. Apabila kita pergunakan untuk hal-hal yang tidak perlu, maka ia akan berlalu dengan pesan saat itu.

“Iya, betul ya Teh. Saat berinteraksi dengan sesama saja, kita sudah banyak salah-salahnya. Dan kita pun menyadari bahwa kita salah, terkadang setelah diberi tahu. Lalu, bagaimana dengan pandangan Allah terhadap kita, yaa.    Allah yang tidak memberi tahu kita secara langsung, namun menyampaikannya melalui hamba-hamba-Nya yang berinteraksi dengan kita. Apalagi yang dapat kita perbuat, kalau kita menerima langsung berita tersebut dari Allah. Karena ternyata, apa yang kita lakukan tidak sesuai dengan mau-Nya. Ai! Kita mau berbuat apa yaaa…” ungkap beliau, tetanggaku.

Aku terharu dengan kalimat yang beliau sampaikan. Anak baru, yang semenjak satu bulan terakhir menjadi bagian dari hari-hari kami. Kalimat bijak yang penuh dengan pesan. Walaupun beliau menyampaikannya dengan menunduk, aku dapat melihat ada binar penuh energi yang memancar dari bola mata nan berkedipan.  Ada bulir yang belum sempat tumpah, ketika beliau mengangkat wajah setelah menyampaikan kalimat-kalimat tadi. Aku melihat, beliau terharu. Aku pun terharu. Kami berpandangan untuk beberapa lama. Kemudian saling menyelami kedua mata masing-masing. Keharuan yang beliau alami, mengingatkanku akan satu nikmat. Nikmatnya hidup dengan adanya tetangga yang baik.

“Engkau sungguh berharga,” bisikku di dalam hati. Pesan darimu ingin ku prasastikan pula di dalam catatan perjalanan kehidupan ini. Semoga, kita dapat bertetangga hingga ke alam berikutnya, yaa.

Tidak perlu ku rangkai siapa namanya. Untuk ku ukir di lembaran maya. Karena, aku ingin ia senantiasa ada di dunia nyata. Ya, tetangga yang dapat menjadi jalan ingatkan kita pada nikmat demi nikmat yang perlu kita hitung. Tetangga yang tidak menemui kita untuk membicarakan kejelekan sesama, namun yang dapat memberi kita satu pesan setiap harinya.

“Wahai My Surya, ada nikmat lagi nie…. yang perlu kita hitung hari ini. Untuk kita titipkan pada list nikmat-nikmat yang kita sadari dan kita bersyukur atasnya hari ini,” begini sapa tetangga berikutnya yang menemuiku pada suatu hari.

Adakah tetanggaku yang berikutnya adalah engkau, wahai teman? Tetangga yang tak hanya bersapa di dunia maya, namun kita pun bersama di bawah terpaan sinar mentari yang sama. Semoga, harapan demi harapan yang terus kita jaga nyalanya, dapat menjadi nyata. Hanya atas izin dari Allah… semua ada. Lalu, bagaimana cara kita dalam menghitung nikmat-nikmat tersebut?

“Menuliskannya segera, yuuukss…, agar ia ada dan berwujud,” dengan wajah cerah engkau mengajakku untuk menulis.

🙂🙂🙂


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s