Mentari pun Tersenyum (1:6)


Bunda, kini aku telah lahir ke dunia. Beberapa saat sebelum melahirkanku, Bunda pasti merasakan nuansa yang tidak biasa ya Bun… Bunda, mohon maaf ya, karena aku Bunda mengalaminya. Aku berjanji untuk membuat Bunda tersenyum, setiap kali Bunda memandang wajahku ataupun Bunda mengingatku. Yakinku. Aku mampu menjadi jalan tersenyumnya Bunda, karena Mentari pun tersenyum padaku, hari ini.

Bunda, kini aku masih terlalu lemah. Ragaku belum mampu bergerak gesit. Jangankan melangkah untuk merangkul Bunda, membuka mata saja aku belum bisa Bunda…

Dunia, tempatku berada kini. Dunia yang sungguh asing bagiku. Dunia yang membuatku ingin bertanya, segera. Namun untuk bertanyapun aku belum sanggup, Bunda. Walaupun di dalam hatiku menetes suara yang siap membanjir keluar. Namun untuk membuka mulutpun aku belum biasa Bunda.

Bunda, aku memang belum mampu berbuat apa-apa. Aku belum biasa. Aku tidak akan mampu berbuat apa-apa selamanya, tanpa kerelaan Bunda untuk mengajariku. Bunda, kebiasaan membuat kita bisa, kan Bun? Hanya pada Bunda aku berani sampaikan tanya untuk saat ini. Karena dalam yakinku percaya bahwa Bunda sangat mengerti siapa aku, walaupun hanya ekspresi yang aku sampaikan.

Bun… Saat ini aku masih kecil. Aku bayi yang baru bisa terlelap dalam kenyamanan yang aku jalani. Namun aku tidak akan selalu begini, Bun. Karena aku sudah sampai di dunia. Seiring bergulirnya waktu maka aku akan bertumbuh. Dan semua perubahan yang aku alami tentu senantiasa dalam pantauan Bunda.

Bun, engkau begitu rapi saat merawatku. Hingga sampai waktunya nanti, akupun ingin memberikan perawatan terbaik pada Bunda. Bundaku sayang.

Bun… Pagi ini, ketika mentari mulai menebarkan senyumannya nan menyinari alam, aku pun tersenyum. Senyuman yang ku bingkiskan pada Bunda, sebagai persembahan terindahku. Sebagai salah satu wujud terima kasihku, karena Bunda begitu baik padaku. Hingga Bunda relakan aku bersemayam di rahim Bunda dalam jangka waktu yang lama sebelum akhirnya aku sampai di dunia. Wahai Bunda, sungguh mulia hatimu…

Detak jantung Bunda yang aku simak ketika masih berada di sana, masih ku jaga hingga kini. Walaupun kita berjarak untuk sementara waktu, hanya raga. Bun, tolong rengkuh aku kembali dengan doa-doa terindah yang Bunda rangkai, agar kita terus saling berdekatan. Aku seringkali ingat Bunda, karena aku merindukan kebersamaan kita.

Bun, senyumanku belum terlalu merekah saat ini. Karena aku masih belajar untuk tersenyum. Senyuman yang pernah Bunda teladankan ketika meraba tubuhku dari balik kulit tipis yang melindungi raga ini. Ya, ketika masih berada di dalam rahim Bunda, aku merasakan kebahagiaan yang Bunda alami. Bunda begitu bahagia, dengan keberadaanku bersama Bunda. Ai! Aku berekspresi pula, sama seperti yang Bunda alami. Aku tersenyum, senyuman pertama buat Bunda. Senyuman yang Bunda balas dengan senyuman pula.

Bunda seringkali tersenyum padaku. Aku sungguh terharu, Bun… menjadi bagian dari hari-hari Bunda. Aku bersyukur terlahir ke dunia, melalui Bunda yang penuh dengan kasih sayang. Aku bahagia, karena Bunda sayang padaku. Bun… Rasa ini masih belum sempurna saat mengungkapkannya kalau ku rangkai dalam kalimat berujung titik. Karena begitu istimewanya ia.

Bun, hari ini aku ingin sekali menyapa Bunda. Untuk ku sampaikan banyak bahasa yang ingin ku alirkan. Namun bahasa yang paling mudah untuk ku sampaikan saat ini, adalah bahasa jiwa. Bahasa yang apabila Bunda belum membacanya, maka Bunda sudah memahami. Bahasa yang apabila Bunda mendengarkannya, maka Bunda sangat menikmatinya. Ya, walaupun Bunda belum mempunyai kesempatan untuk membaca bahasa jiwa ini, semoga ingatan dapat sampaikan maknanya terhadap Bunda. Semoga waktu segera membuka gerbang jarak yang membatasi pertemuan kita ini. Agar kita saling bertukar arah tatap.

Aku sangat ingin melirik bola mata Bunda yang mulai berbinar-binar. Ai! Bunda, sungguh aku rindu.

🙂🙂🙂

Dedicated:: Bunda and Mamy


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s