Peace Day is Today


Home Town

Home Town

Teman, kelak pada suatu hari nanti engkau akan tahu. Bagaimana upaya dan usaha yang aku tempuh hingga sampai di kota ini, lalu bertemu denganmu. Ya, engkau perlahan akan mengerti bagaimana proses yang aku jalani sebelum kita berjumpa. Karena tentu saja ada jalan yang membentang sungguh indah di sepanjang waktu yang telah terlewat. Ada jalan yang menyediakan peluang bagiku untuk dapat sampai di sini. Jalan yang ingin lebih sering ku ingat, jalan yang mengingatkanku. Bahwa aku tidak sedang terbang dengan sayap-sayap lembutku untuk menemuimu. Pun aku tidak melayang dengan lembaran daun ingatan yang membawaku ke sini. Bukan, sungguh bukan begitu.

Baiklah, sekilas menatap ke belakang, mari kita menatap kaca spion kehidupan. Agar dalam meneruskan perjalanan, kita dapat mengetahui keadaan di belakang. Apakah lancar-lancar saja dan tanpa hambatan? Yuukss kita memperhatikan kaca spion masing-masing.

Menyediakan waktu untuk membuka lembaran potret tentang masa lalu, kiranya sangat perlu. Karena dengan demikian kita dapat mengingat kembali apa yang pernah kita alami. Hanya sebentar, tiada berlama-lama. Setelah itu kita dapat kembali menghadap ke depan, untuk bersiap meneruskan perjalanan.

Beberapa jam lalu, aku kembali berpetualang ke ‘kampuang’ kami ‘nan jauah di mato’. ‘Kampuang’ kecil nan elok, masih alami. Banyak pepohonan di sekitar lingkungan kami, kehijauan. Setiap kali mengedarkan arah pandang ke sekeliling, engkau akan melihat betapa indahnya alam ini. Murni, belum berpolusi. Apabila engkau ingin menyaksikan secara langsung, hayuu… Kapan-kapan kita bereuni di ‘kampuang’ kami. Untuk berkunjung barang sehari, atau dua hari. Boleh hari ini, esok ataukah beberapa bulan lagi?

Ketika engkau benar-benar mempunyai kesempatan untuk mengunjungi ‘kampuang’ kecil kami, mariii. Namun jangan kaget! Karena ‘kampuang’ kami memang berbeda. ‘Kampuang’ yang di kiri kanan jalannya membentang luas persawahan. Karena pada umumnya, mata pencaharian penduduk setempat adalah bertani. Walaupun tidak seluruhnya. Namun yang pasti, kedua orang tua kami adalah para petani. Petani, apakah yang engkau pikirkan tentang profesi yang satu ini, teman? Ya, ketika engkau mendengarkannya.

Kami yang semenjak kecil menjadi bagian dari nuansa alam, ingin kembali ke alam. Kami yang sebelumnya seringkali berteman dengan peralatan pertanian, ingin kembali mengenangkan semua. Ketika musim tanam tiba, menyiangi, menjagai padi yang mulai berbuah dari sekumpulan burung pipit, hingga sampai pada musim panen, kini kembali melekat dalam ingatan.

Mengembalikan ingatan pada lelah perjuangan dalam penantian panjang hingga memetik hasil, dapat menyegarkan pikir, kiranya. Ya, karena apa yang para petani alami sungguh penuh dengan ujian. Pada saat musim tanam tiba, misalnya. Saat benih-benih sudah mulai ditanam, tiba-tiba musim berubah. Harapan akan aliran air yang menyegarkan benih-benih yang masih hijau muda, segera hilang. Karena beberapa hari kemudian, sebelum benih benar-benar dewasa, ia telah mengalami kekeringan. Tiada air di sekitarnya. Malahan, tanah-tanah menjadi merekah karena kekeringan.

Dalam kondisi demikian, para petani akan mengalami bagaimana rasa kecewa. Petani yang sebelumnya berharap benih dapat tumbuh dengan baik, kini menemui halangan. Karena dalam memberikan pengairan, kami masih bergantung pada curahan hujan saja dan belum ada irigasi, nyatanya. Hal ini berlangsung lebih dari satu atau dua musim. Walaupun tidak selamanya.

Sebagaimana pengalaman yang para petani alami di ‘kampuang’ kecil kami, begitu pula dengan pengalaman yang kami alami pula di sini. Harapan akan tumbuhnya benih ingatan dengan baik, terkadang berujung kekecewaan. Karena, memang demikian adanya. Kami belum dapat mengingat dengan sempurna, terlebih lagi hal-hal yang sangat perlu kami ingat. Ingatan yang tiba-tiba saja menghillang, saat kami sedang dalam usaha untuk menemuinya. Ingatan yang perlu lebih sering kami ingat-ingat lagi. Yaitu ingatan tentang janji dengan diri kami sendiri. Ingatan dengan Pencipta kami, ingatan tentang janji dengan-Nya. Janji-janji yang kami pernah menyetujui, namun belum teringat lagi. Ai! Sungguh, mengistighfari diri lebih sering, adalah salah satu pilihan yang dapat kami usahai. Agar kecewa kami tak berkelanjutan atas keinginan yang belum menjadi kenyataan. Agar kami dapat berkaca pada para petani di ‘kampuang’ kecil kami. Karena beliau, walaupun pernah mengalami kecewa, namun terus berusaha lagi. Buktinya, pada musim selanjutnya, setelah mengalami kekeringan tadi, para petani dapat memanen hasil pertanian. Apa sebab? Karena petani sungguh penuh dengan kegigihan. Tak patah sebelum bertumbuh, tak menyerah walaupun payah.

Oleh karena itulah, dengan berkaca pada pengalaman yang kami alami di ‘kampuang nan jauah di mato’, kini kami kembali bersemangat lagi.
😉 ºќ³³³ (y) ºќ³³³😉 Kami meneruskan perjuangan yang sedang kami tempuh di sini, dengan sepenuh hati. Bersama tekad yang kami jaga keberadaanya terus bersama kami. Maka kami pun siap untuk melanjutkan perjalanan lagi. Perjalanan yang kami belum dapat mengembalikan ingatan tentang lamanya. Sebagaimana janji yang kami setujui dengan Ilahi. Hanya saja, kami perlu terus bergerak sebelum sampai pada tujuan. Dan tujuan akan menujukkan dirinya ketika raga kami sudah tidak dapat bergerak lagi. Saat kaki-kaki kami sudah tidak sanggup melangkah lagi. Saat yang tersisa hanyalah jejak-jejak jemari yang sempat kami pijakkan di lembaran ini.

Teman, bagimu yang saat ini sedang kecewa –aku berharap ini hanya pikirku saja– semoga kembali mau mengembalikan ingatan pada awal engkau berbuat. Karena apakah?

Sehingga, tidak akan ada lagi yang namanya kecewa saat melangkah. Namun hanya terselip ucapan Alhamdulillah… -Aku bersyukur atas apa yang aku alami- Semoga berbuah hikmah. Aamiin Ya Rabbal’aalamiin.

Setelah itu, insyaAllah, engkau akan menemukan kedamaian itu sangat dekat. Dekat sekali. Ya, di sisi kiri dan kananmu pun demikian. Seakan ada yang sedang memberikan kedamaian padamu. Engkau pun tersenyum segera, senyuman yang lebih indah. Karena engkau telah mampu berdamai dengan alam tempatmu berada. Lalu, saksikanlah bahwa kedamaian itu akan senantiasa menjagamu. Hingga senyuman terakhirmu. Ia menjadi temanmu hingga akhir waktu.

🙂🙂🙂


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s