Smiling Sun on Our Little World


Happy Story

Happy Story

Ayah Bunda meneladankan kita untuk bangun pagi setiap hari. Agar kita tidak terlewatkan senyuman awal sang mentari. Sebelum senyumannya benar-benar menghangatkan bumi yang semula kedinginan.

Bersama semangat yang terus kita perbarui, pagi ini pun begitu. Sama seperti kita masih kecil dulu. Walau berat mata ini, namun kita kembali ingat teladan Ayah Bunda. Kita terjaga segera lalu bangkit. Melangkahkan kaki menuju kamar mandi, kemudian berbersih diri. Segar rasanya seperti ini, ingat masa kecil dulu. Saat alam masih berselimutkan embun pagi, kita sudah berguyur diri. Bbrrrr… Dingiiin sekali.

Namun kita sudah terbiasa dengan kondisi ini semenjak dulu. Dingin yang menusuk hingga ke tulang dan sumsumnya yang masih beku. Fufufuuu… Tak tertahankan lagi, rasanya didekap salju.

Beberapa saat kita berteman sejuk yang berlebihan. Namun tidak berlangsung kelamaan. Karena kita yakin, mentari akan segera bersinar. Sinarnya yang menghangatkan bumi, kitapun nanti.

Pagi ini, rupanya mentari benar-benar menepati janji. Ia datang lagi, bersama senyumannya yang merekah… Indah… Mewah… Cerah… Wah… Alhamdulillahirabbil’alamiin, terima kasih ya Allah, atas anugerah pagi yang semoga berkah. Alhamdulillah… Alhamdulillah…

Ayah Bunda mengajarkan kita untuk bersyukur setiap hari. Adapun salah satu wujud syukur diri adalah dengan rajin bangun pagi. Bangunkan raga, hati dan pikir dari lelap panjangnya selama ini. Agar kita tak berlama-lama dalam mimpi. Hayiiiiii…. Bangun, duduk, lalu melangkahkan kaki-kaki ini. Sesekali boleh kita berlari, agar dapat merasakan nuansa yang berbeda saat melanjutkan perjalanan.

Bergeraklah lagi, seraya tersenyum. Senyuman secerah sinar mentari yang kita pancarkan dari lubuk hati. Lalu ia mengembang di selembar wajah ini.

Esok, dini hari kita berjanji untuk bangun lebih awal lagi. Janji pada diri kita sendiri, janji yang perlu kita tepati. Agar kita dapat berbuat lebih banyak bakti. Di dalamnya kita mencipta lebih banyak bukti, tentang aktivitas sebelum mentari pagi tersenyum.

Sudah banyak kita menyaksikan di dunia ini, tentang betapa pentingnya bangun pagi. Bagi orang-orang yang kita lihat lebih bahagia dalam menjalani hari, ternyata beliau sukanya bangun pagi, bahkan lebih awal. Tentang beliau-beliau yang tenang dalam menjalani waktu, rupanya hobbi sekali mandi pagi. Dan kini, adalah kesempatan kita untuk berjanji pada diri sendiri, kalau kita belum mampu mengaplikasikannya. Agar kita pun menjadi terbiasa,
😉 ºќ³³³ (y) ºќ³³³ 😉 ????

Berjanji dengan diri sendiri, memang tidak mudah menepatinya. Kalau kita tidak menghargainya. Karena kita malah sangat suka memaafkan apabila ia belum menepati janji-janji yang kita ikrarkan padanya. Namun kalau kita masih menghargainya, maka kita sangat mudah menepati janji yang kita sampaikan padanya. Let’s percayai diri sendiri, bahwa ia bisa bangun pagi. Walaupun esok dini hari adalah untuk pertama kalinya.

Kita ingin menjadi lebih baik lagi, bukan? So, berbuatlah sesuai dengan apa yang kita lihat baik, lalu teladani. Karena kita dapat berkaca pada situasi.

Perhatikanlah teman-teman kita yang seringkali berprestasi. Mereka pasti gemar bangun pagi.

Aaaaa…. Tak ada lagi janji, kalau kita mau menciptakan bukti. Karena kehidupan yang kita jalani bukan tentang janji-janji. Namun lebih berarti ia dengan bukti. So? Masihkah engkau mempertanyakan senyuman mentari pagi ini?

Mentari yang tidak pernah menyampaikan janji untuk bersinar hari ini, kepada kita. Namun ia terus bersinar, bukan? Dan tahukah engkau teman, bahwa mentari selalu ingin memberikan bukti sebagai wujud bakti pada Illahi. Dan engkau, bagaimana denganmu yang juga pernah berjanji dengan Rabb-mu. Masih ingatkah engkau?

Engkau dapat membuktikan bahwa engkau senantiasa belajar dari mentari tentang upayanya dalam mengabdi. Karena memang untuk itu ia ada. Sebagai salah satu jalan yang dapat engkau tempuh. Untuk mengembalikan ingatanmu pada Allah subhanahu wa ta’ala.

Pagi ini, kita menatap mentari pagi. Lalu berucap sebait kalimat padanya, “Terima kasih, yaa”.

Mentari pun tersenyum pada kita. Senyuman yang kita balas dengan senyuman pula.

Ingin tangan ini merengkuhnya, namun apa daya. Ia nun jauh di sana.

Seraya berteriak lantang, kita sampaikan padanya, “Mentariiiiiiiiiii… Esok aku sudah tersenyum lebih indah, sebelum engkau muncul dengan senyuman ceriamu”.

Xixixiii …

😀 🙂 😀

“Engkau yang awalnya satu. kini tak lagi begitu. Ada yang senantiasa bersamamu dalam melangkah.
Buka mata, lalu melihatlah,
Optimalkan fungsi telinga, lalu mendengarlah,
Raba hati, lalu rasakanlah apa yang sesama rasakan,
Indera penciuman, ada pada hidungmu. Pedulilah pada lingkungan,
Ada kulit yang menghampar luas pada dirimu, itulah alam.
Renungkanlah…”

~ Marya Sy ~


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s