Alasan Saat Pergantian Musim


Di ujung kabut tipis

Di ujung kabut tipis

Akhir-akhir ini, engkau jarang terlihat pada siang hari. Karena musim telah berganti. Ya, musim hujan yang selama ini sempat menjauh, kini kembali.

Tidak hanya pagi, siang atau sore hari, malam pun hujan dapat turun dengan derasnya. Sebagaimana yang berlangsung saat ini, tetesan nan sejuk pun menguasai bumi. Hingga kondisi alam yang semula teduh menjadi semakin mengerucut. Yach, termasuk persendian yang terdapat pada raga insan-insan di dunia. Tetesan bening nan mengguyur alam pun merembes perlahan.

Tak pernah aku menyangka sebelumnya, seorang teman pun menyampaikan apa yang ia alami.
“Dingiin sangaat, aku nanti aja shalatnya,” bisik beliau seraya menarik kembali selimut tebal yang sedari tadi telah terlihat nyenyak di dekat beliau. Padahal azan sebagai panggilan untuk mendirikan shalat sedang berlangsung.

Mengapa menunda untuk mendirikan shalat? Padahal kita tidak pernah tahu kapan terakhir kalinya nafas ini membersamai. Sampai di sini, aku tidak berdaya “menyusun huruf” untuk membahasnya. Cukuplah menjadi salah satu peringatan bagi diri ini, agar ia selalu ingat tentang apa yang perlu ia ingat.

Dengan tak hanya berkata-kata, namun kita perlu mengaplikasikannya di dalam tindakan nyata. Bukankah kita sudah sering bahkan tidak jarang menyaksikan dan atau mendengarkan berita-berita yang mengabarkan tentang kematian?

Semoga ingatan pada hal penting yang satu ini, dapat menjadi salah satu alasan bagi kita untuk mau bersegera mendirikan shalat ketika waktunya sudah datang. »Laahaula walaa quwwata illaabillaahil’aliyyul’adziim…«

Kita tidak sepatutnya mengalasankan perubahan iklim untuk tak bersegera bangkiit dari kenyamanan. Karena perubahan iklim dapat menjadi peringatan bagi kita. Bahwa memang tidak ada yang senantiasa sama dari waktu ke waktu. Semua bergerak, bergulir, mengalir, termasuk juga matahari, ia berevolusi. Sehingga akibat dari revolusi tersebut, kita pun bersua dengan yang namanya siang dan malam. Siang yang benderang bersama senyuman mentari. Dan alam yang gulita selama ia tak menyinarinya.

Mentari masih ada, hanya saja ia tak selalu dekat dengan bagian bumi di mana kita berada. Karena ia senantiasa bergerak di dalam lintasannya bersama planet-planet yang lain. Hingga tiba waktu yang pasti, semua pun terdiam untuk tidak bergerak lagi.

Mentari masih ada. Walau ia tidak seringkali menampilkan senyumannya. Ya, pada waktu-waktu dalam pergantian musim yang berlangsung akhir-akhir ini, ia masih tersenyum. Karena dalam pergantian musim sekalipun, mentari mempunyai alasan mengapa ia masih tersenyum.

🙂🙂🙂

“Engkau yang awalnya satu. kini tak lagi begitu. Ada yang senantiasa bersamamu dalam melangkah.
Buka mata, lalu melihatlah,
Optimalkan fungsi telinga, lalu mendengarlah,
Raba hati, lalu rasakanlah apa yang sesama rasakan,
Indera penciuman, ada pada hidungmu. Pedulilah pada lingkungan,
Ada kulit yang menghampar luas pada dirimu, itulah alam.
Renungkanlah…”

~ Marya Sy ~


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s