Engkau Mau Maka Engkau Mampu


Satu

Satu (Photo credit: Nesster)

“Kemauan mampu memenangkan ketidakmampuan.”

Satu kalimat tersebut, terus menari-nari di dalam ingatanku. Semenjak pagi hari sebelum memulai aktivitas, hingga sore ini. Beberapa saat menjelang senja. Ya, kalimat yang mengingatkanku pada banyak pihak yang sedang berkontribusi untuk memudahkan perjalananku dalam merengkuh cita, meraih asa dan mewujudkan harapan. Satu persatu dari beliau, segera hadir dalam ingatan. Wajah-wajah beliau yang penuh keramahan, bersama senyuman yang tertata seakan menemaniku dalam menjalani detik demi detik waktu.

Hari ini, seharian lamanya, aku teringatkan kalimat tersebut. Ingat lagi, dan ingat lagi. Makanya, aku menitipkannya di dalam salah satu lembaran ini, agar ia segera tercurahkan. Haha. Begitulah aku selalu. Kalau ada yang keingetan, perlu dialirkan.  Karena dalam yakinku, setiap apa yang teringat, pasti mengandung hikmah, pesan ataukah bahan pelajaran. Semoga kehadirannya tidak sia-sia. Yaa.

“Kemauan mampu memenangkan ketidakmampuan.”

Kalimat yang menari-nari dengan anggunnya, sempat memenuhi ruang pikirku selama seharian. Apakah pesan yang ingin ia sampaikan? Hingga saat ini, aku masih berusaha untuk mencernanya. Semoga dalam kesempatan terbaik, dapat pula ku jadikan sebagai salah satu referensi untuk merangkai kalimat lebih banyak lagi. Ya, tentang kemauan. Tentang ketidakmampuan.  Karena keduanya hanyalah tentang persepsi. Tentang kemauan yang tiada wujud, pun ketidakmampuan yang tak terlihat.

Tidak banyak orang yang mampu, kalau ia tidak mau. Dalam melakukan apapun itu. Karena, bermula dari kemauanlah setiap kita mampu. Maka orang-orang yang kita kenal mampu melakukan berbagai hal dengan baik, justru bermula dari kemauan yang terus beliau jaga. Mau melangkah, mau berubah. Mau mengalah, pun mau memaafkan. Seperti pengalaman paling berkesan yang aku alami pada hari ini. Pengalaman yang berhubungan erat dengan kemauan.

Kemauan untuk memaafkan, ya… memberi maaf.

Karena, walaupun dari hal sepele yang kita anggap tidak penting, dapat berakibat sangat penting. Contohnya tentang kemauan untuk memberi  maaf.

Orang yang memiliki kemauan, akan menjalani kehidupan dengan ringan, tenang dan penuh percaya diri. Sedangkan yang belum mempunyai kemauan, selamanya akan begitu.  Ia tidak akan mampu.

So, akhirnya jawaban dari sepotong kalimat singkat yang selama seharian menggelayuti ruang  pikirku, ditemukan sudah. Ia hadir untuk menjelaskan, bahwa setiap kemauan akan memenangkan ketidakmampuan.

Jadi, kesimpulannya adalah,  setiap kita mampu memaafkan, kalau kita mau.

🙂 🙂 🙂

Advertisements

“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s