Feeling Peaceful


Hello World,

Dalam jeda waktu yang terus bergulir maju, aku teringat banyak cita yang menjadi jalanku bergerak lagi. Yah. Agar tercapai ia dalam sebaik-baik keadaan.

Dari kebersamaan dengan teman-teman, di sela percakapan terselip doa-doa terindah buat kami, aku dan beliau. Ya, sepenuhnya kami mendamba imam yang dapat membimbing kami atas kebelumtahuan dan meluruskan kami atas pengetahuan menjadi benar. Karena dalam belajar terkadang kita khilaf saat mencatat apa yang guru sampaikan.

Siapa yang tak pernah keliru?

Alhamdulillaahirabbil’alamiin…
Ada yang mau membenarkanku saat aku salah, terima kasih ya Allah…
Semua ini adalah rezeki yang engkau sampaikan kepada kami. Rezeki yang kami nikmati bersama, saat kami benar-benar menghayati kebersamaan ini. Ya, saat kami saling mengingatkan. Sehingga ada yang tersenyum, karena ia bahagia saat diingatkan. Pun ada yang tersenyum karena ia menjadi jalan untuk mengingatkan saudaranya karena ingatnya pada-Mu ya Allah…

Dalam waktu-waktu yang ada untuk ku jalani, aku menyediakan lima belas menitnya untuk menitipkan beberapa buah kalimat di sini. Kalimat-kalimat tersebut mungkin menurutmu sungguh tak penting atau belum berarti. Namun bagiku, ia dapat menjadi salah satu jalan menuju pada cita. Oleh karena itulah aku kembali ke sini untuk menciptakan kesan bersamanya. Ya, bersama waktuku saat ini.

Dalam sudut hatiku baru saja menyuarakan nada yang bagiku sudah tak asing lagi. Entahlah menurutmu. Apakah bagimu pun sama? Berarti kita sehatiiii… Yyyeee…eeesss.

🙂 Mari Kita Bersenyuman…🙂

***

So, ku merangkainya segera, agar engkaupun tahu bagaimana suara yang hadir dari sudut hatiku.

“Aku ingin imamku adalah seorang yang memahami agama dan lebih faqih. Lalu aku dapat benar-benar menjadikan beliau sebagai jalanku untuk mengetahui apa yang belum aku pahami. Pun, beliau dapat menjawab pertanyaan yang aku ajukan atas kebelumtahuanku. Terutama dalam urusan akhirat. Aku rindu wajah nan damai. Sedamai hatiku saat ini.

Kemudian aku melanjutkan perenungan panjangku. Teringat sebuah kalimat indah yang tertera jelas di dalam salah satu ayat Al Quran yang ku belajar memahami maknanya, “Dan apabila mereka mendengar perkataan buruk, mereka berpaling darinya dan berkata, “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amal kamu, semoga selamatlah kamu, kami tidak ingin (bergaul) dengan orang-orang bodoh.’ (Q.S Al Qasas [28]: 55).

Mereka menjauhkan bergaul dengan orang-orang yang kurang ilmu pengetahuannya. Namun mereka terus mempedulikan mereka, tanpa meninggalkan. Dengan menitipkan bahasa yang menarik, “… Semoga selamatlah kamu …”

Subhanallah…

Betapa mulianya hati yang mereka bawa. Sehingga yang ada di dalamnya hanyalah harapan untuk kebaikan saudara-saudarinya. Membalas dengan kebaikan, atas kebelumbaikan yang mereka terima. Wahai, sungguh mengesankan pribadi muslim yang demikian.

Untuk dapat menjadikan beliau semua sebagai bagian dari hari-hari yang aku jalani, tentu membutuhkan proses yang tidak sebentar adanya. Terkadang jatuh ku saat melanjutkan perjalanan dan atau terkilir pergelangan kaki kalau tidak berhati-hati melangkah. Karena jalan-jalan yang membentang tidaklah selalu mudah. Terkadang ada duri di antara satu simpang ke persimpangan lainnya. Walaupun wujudnya kecil, namun kalau terinjak saja satu diantaranya, perih bukan main. Begitulah kesan dalam meneruskan perjalanan. Ada suka dan dukanya, teman.

Bermudah-mudah dalam menebarkan senyuman di sepanjang perjalanan tentu tidak semua orang yang suka. Karena sesuai dengan persepsi masing-masing. Lalu, menanyalah mereka, mengapa engkau mensenyumiku, padahal kita tidak kenal satu sama lain. Lalu, terlihatlah dari wajah mereka keterkagetan yang penuh tanda tanya. Aku pernah membaca raut wajah yang serupa pada suatu hari.

Mau tahu kisahnya??

Begini.

Sore di perjalanan.

Sepulang dari beraktivitas aku tidak langsung pulang. Namun mampir dulu ke sebuah lokasi yang sangat aku rindukan. Karena kami sudah lama tak jumpa. Masjid Pusdai, adalah tempat yang aku maksudkan, teman.

Tidak lama waktu yang terpakai untuk dapat sampai di sana. Karena lokasi masjid Pusdai tidak terlalu jauh dari tempat ku bertempat tinggal. Hanya beberapa puluh menit di perjalanan dengan menggunakan angkot, sampai deecch…

Alhamdulillah,🙂 bersama senyuman yang mengembang memekar, aku sungguh bahagia. Karena masih dapat menyusul jamaah shalat Maghrib pada senja menjelang malam ketika itu. Oia, aku masih ingat. Hari itu adalah hari Rabu. Hari kelahiranku.

Walaupun hanya dapat rakaat terakhir berjamaah shalat Maghrib, namun ada kelegaan yang menyeruak tiba-tiba. Ketika aku menyadari perjuangan yang ku tempuh untuk dapat sampai. Karena aku perlu jalan kaki terlebih dahulu, berhubung ga ada angkot, sebelumnya. Namun aku terus berjalan dan tak hanya menunggu angkot yang ga kunjung datang. Berjalan terus ku melangkah, karena aku mempunyai tujuan. Walaupun sarana yang menjadi jalan sampaikanku pada tujuan, belum juga mendekat. Dalam paragraf ini, ada pesan tersirat di dalamnya. Dapatkah engkau membaca pesan tersebut, wahai teman?

Pesan ini untuk diriku terutama. Pesan yang perlu aku tuliskan dalam rangkaian kata mewujud kalimat. Agar, aku dapat membacanya lagi pada suatu ketika. Yah, sehingga pesan tersebut mampu menjadi jalan ingatkanku lagi. Bahwa untuk mencapai tujuan yang kita damba, terkadang memang tak mudah. Namun yakinlah bahwa keindahan akan kita temukan dalam perjalanan menuju padanya.

And, this experience send me a message about “Keyakinan dalam Berjuang”.

🙂🙂🙂

MY@>–SURYA


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s