Walau Engkau Tiada


Rangkaian kalimat dalam catatan ini, ku bingkiskan buat salah seorang sahabat baik yang meninggal hari ini. Beliau telah mendahului kita semua bersama seorang calon bayi yang masih bersemayam di dalam rahim beliau. Mendengar kabar berita ini untuk pertama kalinya, aku seakan menemukan berita bahwa yang mengalami hal tersebut adalah aku. Aku yang pernah dibawa oleh sang fikir hingga ke sana. Ya, aku seakan pernah membersamai nuansa yang sama. Ataukah hanya di dalam ilusiku saja?

Setelah engkau tiada, teman. Seakan engkau dekat di hadapan. Senyumanmu yang engkau bawa setiapkali menyapaku dengan ramahmu, kini kembali teringat olehku. Bersama lembut suaramu itu, engkau titipkan rangkaian kenangan buatku. Dan satu hal yang seringkali ku tandai sebagai ciri khasmu adalah rona pipimu yang kemerah-merahan itu. Engkau mudah sekali membuat lembaran pipimu itu bersemu setiap kali berbicara denganku. Ai! Hanya di hadapanku sajalah? Aku pikir memang begitu.

Temanku, beliau telah tiada. Pada detik-detik terakhir keberadaan beliau di dunia ini, memang kami tidak sedang bersama. Berhubung lokasi tempat tinggal beliau yang sangat jauh dariku. Lagi pula, aku tak tahu di mana beliau berdomisili. Walaupun begitu, engkau seakan menyapaku kembali, teman, saat ini.

Bersama kedipan matamu yang khas, mengkerling. Engkau sungguh berbeda dari teman-teman kita yang lain. Dengan kostum berwarna pink yang seringkali engkau pakai, kini engkau mampir di dalam ruang pikirku. Engkau walau bayangan saja, masih cantik dan menawan. Innaalillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Selamat jalan teman, selamat meneruskan perjuanganmu di tempat yang baru. Kami pun akan menyusulmu pada suatu hari yang belum kami ketahui.

Alangkah indahnya kebersamaan sesama teman, saat dengan mudahnya beliau memberi kita celah untuk mengenali diri kita sendiri. Sungguh, beliau yang pernah menjadi bagian dari hari-hari kita, akan senantiasa dekat di hati. Sekalipu raga beliau telah tiada. Dan kita hanya mendengar kabar beliau tersebut dari mulut ke mulut yang mengabarkan.

Temanku yang baik, beliau masih begitu muda. Dan kini telah tiada. U-N-E-N-G. Ku mengukir namamu di dalam catatanku. Ia akan ada selamanya, meskipun tidak akan pernah lagi ku mendengar suaramu yang hadir untuk menyapaku.

Biarlah suara hati ini yang kembali menjadi jalan ingatkanku padamu teman, setiap kali ada kesempatan waktu aku membacanya kembali. Kapanpun itu. Terkirim rangkaian do’a buatmu pun buah hati. Lalu melantunkan baris-baris Al Fatihah yang dapat menjadi jalan damaikan lelap panjangmu. Tenanglah teman… Di lingkunganmu yang baru.

Kita tetap sahabat. Meskipun engkau telah tiada.
Kita kembali dapat berjabat dalam rangkaian doa yang segera mengalir.
Kita bersenyuman, dalam ingatan yang membawaku pada perjuangan tertinggimu.

Meskipun engkau telah tiada, namun ketiadaan ragamu tetap mampu mencipta kisah di antara kita. Kisah yang tidak akan pernah terulang lagi setelah saat ini berlalu.

NB:: Teman, tolong selipkan pula nama Uneng di antara rangkaian doamu yach… 😉

Thanks a bunch.

🙂🙂🙂

MY@>–SURYA


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s