Great Message Today


Pagi ini, mentari bersinar dengan cerahnya. Seraya mengembangkan senyumannya yang khas, ia berpesan padaku, “Aku tidak selalu ada untuk membersamaimu dalam menerangi hari-harimu. Karena aku mempunyai keperluan lain yang mesti aku tunaikan. Sebagaimana halnya yang terjadi sebelum ini. Ya, beberapa jam yang lalu. Aku memang tiada, bukan? Itu terjadi, karena aku mempunyai tanggung jawab berikutnya. Oleh sebab aku berguna. Dengarlah… saat aku tidak terlihat bersenyuman denganmu pada suatu waktu, bukan berarti aku telah tiada. Namun aku mungkin saja sedang berlindung dari balik awan. Atau memang lagi malam di tempatmu. Dan aku yakin, engkau tahu.”

“Mentari, terima kasih ya, atas pesanmu pagi ini,” jawabku bersama anggukan kepala yang menunduk.
Karena rinduku belum sepenuhnya melebur. Rindu yang ku tahan ketika ia belum tersenyum lagi. Dan saat ini, ketika ia berpesan untukku, rindu ini semakin menggumpal. Aku ingin menatanya sedemikian rupa, agar tak menitik hujan airmata. Dalam yakinku, aku bisa.

Atas barisan pesan yang ia rangkai pagi ini, aku menyetujui. Karena memang terbukti demikian. Memang mentari tidak selalu terlihat olehku. Namun aku yakin, bahwa saat itu ia terus berevolusi. Ia menyampaikan guna di lingkungan terdekatnya. Hmmm… Pribadi sebagaimana mentari, layak dan pantas (menurutku yaa…) untuk kita jadikan sebagai salah satu jalan hadirkan senyuman.

Bahagia rasanya, memperoleh pesan serupa, darinya.

“Kita tidak selalu dapat bersama, namun kita senantiasa dalam kebersamaan. Terlebih lagi saat ingatan menjadikan kita mau untuk saling berpesan,” segera ku menyerahkan sekuntum bunga senyuman padanya.

“Senyuman ini buat mentari, yaa,” ungkapku memecah kesunyian yang sempat tercipta di antara kami.

“Semoga dapat menjadi balasan atas pesan yang engkau sampaikan buatku. Karena pesan tersebut telah sampai padaku dan aku menerimanya. Terima kasih, yaa,” tambahku pula.

Mentari pun tersenyum lebih indah pagi ini. Aku berharap, senyumannya esok hari adalah yang terindah. Dan aku ingin menyaksikannya lagi. Untuk ku sampaikan padamu, teman.

“So, wait for yach?!”

🙂🙂🙂

Engkau yang awalnya satu. kini tak lagi begitu. Ada yang senantiasa bersamamu dalam melangkah. Buka mata, lalu melihatlah. Optimalkan fungsi telinga, lalu mendengarlah. Raba hati, lalu rasakanlah apa yang sesama rasakan. Indera penciuman, ada pada hidungmu. Pedulilah pada lingkungan. Ada kulit yang membentang luas pada dirimu, itulah alam.
Renungkanlah…”

~ Marya Sy ~


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s