Hari Ini di Dekat Persimpangan


Jl. Akuntansi

Jl. Akuntansi

Di depan persimpangan ku berdiri, seraya memandang jauh ke depan. Persimpangan yang selama beberapa tahun terakhir aku kunjungi. Untuk berliburkah? Atau mencari nafkah? Untuk cuci-cuci mata kah? Atau demi menemukan hikmah? Untuk keperluan apakah aku berada di dekat persimpangan ini?

Banyak tanya yang aku ajukan pada diri ini. Kembali, lagi dan lagi aku menanyainya. Tanya yang segera ku jawab sendiri. Sedangkan jawaban atas pertanyaan tersebut, coba ku urai di sini. Dari hari ke hari, aku menemuinya. Semenjak pagi, hingga sore menjelang. Ya, seperti saat ini, teman.

Di nuansa sore nan cemerlang, aku kembali berdiri dekat persimpangan. Persimpangan bernama harapan dan kenyataan. Aku perlu memahami kehadirannya, lalu merangkainya. Harapan yang dapat membawaku pada hari-hari penuh kontribusi. Pun kenyataan yang menitipkanku dengan banyak ekspresi.

Di sini, dekat persimpangan ini, aku pernah menangis, tertawa, tersenyum, bahagia, dan lain sebagainya. Dapat ku sampaikan padamu bahwa hampir semua ekspresi yang aku kenal, bertaburan di dekat persimpangan ini. Persimpangan yang ingin senantiasa ku kenang. Ketika kelak aku belum lagi dapat menjejakkan kaki di sini. Karena di dekat persimpangan ini, aku pernah belajar banyak hal. Aku sungguh-sungguh! Aku menghayati semuanya, saat menjalani. Sehingga aku pun mengabadikannya di dalam salah satu lembar catatan kehidupanku. Untuk berbagi. Tak lebih lagi.

Di sini, di dekat persimpangan ini, aku pernah menemukan sahabat terbaik. Sahabat yang menjadi jalan ingatkanku pada diri ini. Sahabat yang mengingatkanku dengan sepenuh hati. Sahabat yang apabila ku kisahkan lebih banyak di sini, tentu tidak akan selesai ku merangkai kata. Oleh karena itu, aku merangkainya sekilas saja, untuk saat ini.

Di sini, di dekat persimpangan ini, aku pernah menjumpa sosok Ibunda yang baik. Aku sayang beliau, dengan sepenuh hati. Aku membantu beliau atas dasar pengabdian. Walaupun bagaimana kesan yang kami saling pertukarkan dalam pergantian waktu. Namun bagiku, beliau memperlakukanku dengan sempurna. Banyak nasihat yang aku terima, banyak pesan yang aku peroleh. Aku memperolehnya dengan gratis, karena beliau membagikan cuma-cuma. Namun setelah semuanya sampai padaku, ku hargai sebagai hadiah berharga. Sungguh tinggi nilainya. Dan aku sangat ingin membuat hadiah tersebut bermakna hingga ke akhirnya. Walaupun kelak kami tidak lagi dapat bertatap mata dalam nyata. Ibunda, terima kasih yaa.

Di sini, di dekat persimpangan ini, aku pernah mempunyai sosok ayah yang berkharisma. Kebijaksanaan yang melekat pada karakter beliau, seringkali membuatku menitik airmata. Karena aku bahagia tiada terkira, saat masih ada yang mau mengingatkanku ketika lupa. Masih rela beliau membenarkanku atas kesalahan dan khilaf. Ai! Sungguh… Aku akan kembali terkenang dengan kebaikan beliau yang tanpa jeda. Atas banyak kesempatan yang beliau persembahkan. Agar aku menjadi lebih baik lagi. Terima kasih Ayah…

Di sini, di dekat persimpangan ini, aku pernah bersama dengan adik-adik yang jelita dan belia. Beliau menjadi jalan bagiku untuk kembali mengenal diri. Bahwa ternyata, aku sudah tak belia lagi. Ai! Di antara semua adik-adik di sini, aku sudah lebih berusia. Namun bagiku, itu tidak mengapa. Selagi kita saling menghargai dan menyayangi, tidak peduli siapa yang paling cantik..?! Karena tampilan raga tak dapat menandingi kecantikan jiwa yang ada di dalamnya. Dan bahagianya hatiku seringkali meruah segera, saat menyaksikan kecantikan yang melekat pada beliau adik-adikku. Wahai sister, keep belia yach. 🙂

Di sini, dekat dengan persimpangan ini, aku pernah mengenal kakak-kakak yang berbudi dan baik hati. Beliau mengajari dan meneladaniku bagaimana cara berbakti. Beliau menunjukkan bukti tak pernah berjanji. Sungguh, kagumku dan salut atas semua ini. Aku ingin menjadi sebagaimana beliau teladankan.

Di sini, dekat dengan persimpangan ini, ada yang selalu ku perhatikan. Perhatian yang membawaku pada masa yang telah aku lewati. Ia ku namai kenyataan. Pun mengajakku untuk menyentuhkan jemari di dinding hari yang akan aku jalani. Ia bernama harapan.

Di sini, dekat dengan persimpangan ini, aku menjalani kenyataan dan membangun harapan. Begitulah renunganku hari ini, di dekat persimpangan. karena aku masih di sini. Ya, sebelum kebersamaan dengannya bernama kenangan.

🙂🙂🙂

Engkau yang awalnya satu. kini tak lagi begitu. Ada yang senantiasa bersamamu dalam melangkah. Buka mata, lalu melihatlah. Optimalkan fungsi telinga, lalu mendengarlah. Raba hati, lalu rasakanlah apa yang sesama rasakan. Indera penciuman, ada pada hidungmu. Pedulilah pada lingkungan. Ada kulit yang membentang luas pada dirimu, itulah alam.
Renungkanlah…”

~ Marya Sy ~


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s