Cried Again?


Cup Cup Sayang
Cup Cup Sayang

Engkau sahabat yang ku sayang, bahkan lebih dari segalanya. Tepatnya, setelah aku mengenalmu waktu itu. Kapankah? Sejak kapan aku mengambilmu sebagai sahabatku? Ah… Aku juga tidak ingat. Namun yang jelas, semenjak perhatianku berlebih kepadamu, ketika ingatanku lebih sering melekat denganmu, maka aku tahu bahwa aku mulai menyayangimu. Hingga kini, satu kata bernama sahabat, aku tempelkan di keningmu. So, setiapkali aku melihatmu, maka aku ingat bahwa engkau adalah sahabatku.

Wahai sahabat, meskipun kata ‘sahabat’ saat ini sedang tidak terukir di keningmu, namun setiap kali melihat orang lain menyusun huruf membentuk sahabat, maka aku segera mengingatmu. Ataukah engkau sudah merupakan sahabat bagi orang lain, selain aku?

Walau banyak sahabat yang engkau miliki selain aku, namun aku masih ingin tetap sahabatmu. Dan engkau adalah sahabatku.

Backsound:: Brothers – Selamat Berjuang

Malam siang berlalu
Gerhana kesayuan
Tiada berkesudahan

Detik masa berlalu
Tiada berhenti
Oh syahdunya

Sejenak ku terkenang
Hakikat perjuangan
Penuh onak dan cabalan

Bersama teman – teman
Arungi kehidupan
Oh indahnya o ooo

Berat rasanya
Didalam jiwa
Untuk melangkah
meninggalkan semua

Kasih dan cinta
Yang terbina
Diakan selamanya
O ooo

Slamat berjuang sahabatku
Semoga Alloh berkatimu
Kenangan indah bersamamu
Takkan kubiar dia berlalu
Berjuanglah hingga ke akhirnya
Dan ingatlah semua ikrar kita

Hati ini sayu mengenangkan
Sengsara di dalam perjuangan
Jiwa ku merana dan meronta mengharapkan
Kedamaian dan jua ketenangan wo uwo

Tetapi kuatur pada hakikat
Suka dan duka dalam perjuangan
Perlu ketabahan dan kekuatan
Keteguhan hati berlandaskan iman

Slamat berjuang sahabatku(sahabatku)
Semoga Alloh berkatimu (berkatimu)
Kenangan indah bersamamu (bersamamu)
Takkan kubiar dia berlalu (ooooo)
Berjuanglah hingga ke akhirnya
Dan ingatlah (ingatlah) semua ikrar kita

O o ohooo ho o ohooo

Engkau sahabat yang aku sayang. Sungguh, sangat aku menyayangimu. Sehingga aku seringkali memberikan perhatian berlebih terhadapmu. Dari hari ke hari, aku memperhatikanmu. Aku lihat apa yang engkau lakukan, aku dengarkan dan ku simak apa yang engkau sampaikan. Walaupun tidak semua suaramu engkau perdengarkan, namun aku berusaha untuk meneliti apa yang sedang engkau alami. Hingga pada suatu hari, aku  melihatmu terisak. Engkau menangis. Ai! Engkau menangis lagi…?

Tidak sanggup aku melihat derai airmata yang mengalir deras di pipimu. Tidak pula aku berdaya mengelap sisa-sisa alirannya yang masih membekas. Karena aku sedang berada jauh darimu. Ya, nun jauh di dalam dirimu yang paling sudut, aku berada. Tolong maafkan aku, tidak segera hadir di hadapanmu untuk menyampaikan empatiku. Namun yakinlah bahwa aku ada. Aku masih ada untukmu, wahai sahabatku.

Walau tanpa wujud yang nyata di dekatmu, aku masih berusaha untuk melakukan yang terbaik untukmu. Meskipun tidak sanggup ku melangkah untuk menyampaikan suaraku di telingamu. Namun saat ini, kemarin dan esok, yakinlah bahwa aku senantiasa ada untukmu. Tepatnya, semenjak aku mengenalmu.  So, sayangilah dirimu, tolong… sebagai bukti bahwa engkau menghargai kehadiranku.

Aku memang bukan yang pertama sebagai sahabatmu, namun aku adalah yang utama. Karena saat ini, aku berada sangat dekat denganmu. Aku ada di dalam dirimu, telah menyatu erat dengan ragamu. Aku adalah sekeping hatimu.

Tidak ingin memperhatikanmu begitu saja, lalu aku coba menanyamu. Ku raih pundakmu yang engkau sandarkan pada sebuah dinding bercat putih. Ku bawa mendekat denganku. Agar engkau merasa lebih damai, tentu saja. Ai! Adakah engkau menyadari kehadiranku? Mengapa masih menangis? Mengapa, mengapa wahai sahabat?

Berulangkali tanya yang aku sampaikan padamu, tanya yang sama berupa ‘mengapa.’  Namun berulangkali pula aku mesti memperdalam perhatianku. Karena engkau belum juga mengungkapkan sepatah kata pun jua. Aku ingin pasrah? Apakah aku mesti menyerah? Bagaimana kalau aku abaikan saja dirimu yang masih bersimbah airmata? Dan aku melanjutkan perjalananku yang berikutnya. Ya, karena engkau masih belum menyampaikan suara meski sepatah kata. Bagaimana? Masih aku menanyamu, untuk memperoleh persetujuan. Engkau pun terdiam dari isakmu. Sepertinya, engkau mulai menyadari kehadiranku. Alhamdulillah… “Akupun tersenyum,🙂 “

Dekat, tepat di sampingmu, aku sedang duduk dengan manis. Aku siap mendengarkan ceritamu. Aku sudah menyediakan minuman beserta potongan biskuit untuk kita jadikan camilan, saat berkisah.

“Baiklah, mari teman, apa yang engkau ingin sampaikan? Mari kita berbagi meskipun suara hati,” ajakku padamu.

Beberapa puluh menit lamanya, engkau masih terlihat diam. Engkau sedang menyeka airmata yang mulai berkurang. Engkau meraih beberapa helai tisu, lalu menempelkannya pada pipimu. Dua bola matamu yang mulai sembab, pun engkau bersihkan. Karena engkau sudah henti meluahkan perasaan melalui airmata. Aku perhatikan saja, apa yang engkau lakukan.

Segelas minuman, cukup untuk kita berdua. Karena kita satu. Sepotong biskuit, akan kita bagi. Karena kita merasa cukup. Akan tetapi, kalau kurang, kita boleh tambah lagi.
Masih dengan harapan, aku menantimu yang sedang sibuk dengan aktivitasmu. Meraih lagi beberapa lembar tisu, lalu mengubahnya menjadi bergumpal-gumpal. Kemudian, menyimpan di dalam tempat yang telah engkau sediakan. Apalagi namanya, kalau bukan tempat sampah?

Aku masih duduk di sisimu.

Sempat aku menunduk sejenak, sehingga perhatianku terlepas kepadamu. Lalu, ketika aku mengangkat wajahku lagi, aku terkejut. Tiba-tiba aku melihatmu kembali mengucurkan airmata. “Aaaacccccc, yu are! Engkau menangis lagiiii…?”

Hanya tanya yang aku selipkan padamu. Tanya yang berulangkali aku sampaikan. Tanya yang tidak perlu lagi engkau jawab, karena jawabannya adalah apa yang engkau jalani. Engkau sepertinya sangat bersedih, yaa. Masih sepertinya, aku masih beranggapan. Karena, karena, karena apa lagi, engkau menangis, kalau bukan karena kesedihan?

Hmm…

Ku pinggirkan gelas berisi airputih yang tadinya akan kita minum berdua. Ku simpan kembali potongan biskuit yang aku siapkan buat kita. Lalu, aku mendekatimu lebih dekat. Walau masih dengan tanda tanya yang mengikutiku.

Aku tidak akan menanyamu lagi, tentang apa yang engkau alami. Karena aku sangat ingin mewakili dirimu, untuk menyampaikan apa yang engkau rasa. Aku ingin mengambil peran sebagai sebaik-baiknya sahabatmu. Aku yang akan menyampaikan pada sesiapa saja yang melihatmu menangis. Sedangkan pada saat yang sama, engkau tidak mampu berkata-kata. Karena aku sahabatmu.

Baiklah, aku ingin bersuara saja. Suara dari seorang sahabat perempuanku yang sedang menangis.

***

Terkadang bahkan seringkali kita bertanya, mengapa perempuan menangis?  Seakan tanpa sebab, tiba-tiba perempuan itu menitikkan airmatanya. Seperti ia mempunyai persediaan airmata yang banyak. So, ia membuang-buangnya saja, tanpa peduli bahwa semua itu sia-sia.

“Tidak…! Perempuan menangis bukan tanpa sebab. Bukan pula untuk mensia-siakan airmatanya tanpa alasan. Justru karena ia sangat mengenal sebabnya, maka perempuan akhirnya menitikkan airmata. Airmata yang konon merupakan aset paling berharga baginya. Untuk meluluhkan emosinya yang tidak tertahankan lagi. Untuk menyampaikan bahwa ia mempunyai perasaan. Tidak mudah ia menyampaikan apa yang ia rasa. Sehingga dengan airmata ia mengungkap segalanya.

“Perempuan yang menangis, bukan berarti ia lemah. Bukan pula bermakna bahwa ia tidak mampu menyampaikan apa yang ia rasa. Namun atas dasar rasa yang ia punya, maka ia ingin menjaga lidahnya agar tidak berkata yang sia-sia. Agar, hatinya yang sebenarnya sedang bersuara, ingin ia redam. Lalu, ia alirkan dengan sebaik-baiknya melalui airmata. Dan perhatikanlah, apa yang perempuan lakukan setelah ia menangis. Lihatlah wajahnya, pandanglah tingkah lakunya. Perempuan akan kembali tersenyum. Karena ia menemukan pencerahan. Ia memperoleh ide baru. Ya, ide yang bisa saja ia tuliskan, kemudian ia baca kembali. Tulisan yang hadir saat ia sedang menangis, dapat membuatnya tersenyum.”

Alhamdulillah, aku tidak menyampaikan uneg-unegku di saat sedih, dalam bentuk rangkaian kata yang terucap. Karena kalau saja aku sampaikan, maka akan ada hati lain yang terluka. Dan aku tidak mau hal demikian terjadi. Karena aku ingin menjaga lisanku, saja. Ya Allah… bantu hamba dalam mengelola segala rasa. Hidupkan hati hamba saat airmata mengalir membasahi pipi. Agar hamba tahu, Engkau selalu ada di sisi. Bahkan sangat dekat dengan diri ini.

“Astaghfirullaahal’adziim,” bisiknya.

By : Sahabatmu, “Ketika Gerhana Telah Berlalu”

🙂🙂🙂


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s