For Your Future Life


2033

Aku adalah seorang dosen praktisi. Aku menjadi pengajar saat ini. Ya, pengajar yang sebelumnya pernah bergabung di dunia kerja. Aku yang pernah bergabung di sebuah perusahaan swasta yang telah bertaraf internasional, mempunyai pengalaman. Pengalaman ku tidak hanya bagaimana berhubungan dengan klien dan relasi kami, namun bagaimana cara berinteraksi dengan bos ku sendiri? Ai!

Hai Teman-teman...

Begini …

Bos, baru saat ini aku menulis satu kata ini, di sini. Dan untuk pertama kalinya, aku merangkai kata yang satu ini. Satu kata yang seringkali aku dengar dan para kolega ku mengucapkannya hampir setiap hari. Namun bagaimana denganku? Jarang bahkan aku merasa sangat sedikit mengungkapkan kata ini dalam memanggil beliau yang sedang menjadi pimpinan kami saat bekerja di perusahaan dulu.

Aku lebih sering memanggil nama beliau langsung, ketika bercakap tentang beliau. Dan itu adalah salah satu kesenangan ku. Aku lebih baik dan percaya diri saat mengucapkan nama beliau langsung, setiap kali kami bertukar informasi. Tidak memanggil ‘bos’ seperti yang pada awal paragraf ini aku tuliskan. Semoga hanya tulisanku saat ini yang membuktikan bahwa aku ternyata juga pernah menyapa beliau dengan panggilan bos. Ya, sebagai kata ganti, tentunya. Dan dalam ungkap nada suara yang mengalir, aku menyapa nama beliau langsung.

Sebagaimana yang pernah aku alami dulu, dan aku mengaplikasikan. Maka begitu pula dengan saat ini. Untuk pimpinan di mana aku berada saat ini, aku lebih senang menggunakan nama beliau langsung saat aku ingin menyampaikan tentang beliau. Begitulah aku.

Saat ini, aku tidak lagi bekerja pada perusahaan swasta yang sudah go international seperti yang pernah menjadi pengalaman ku. Karena kini, aku sedang berada pada sebuah lembaga pendidikan.Ya, lembaga pendidikan tinggi yang menjadi bagian dari hari-hari ku.

Sudah lama aku berada di sini. Aku hadir sebagai jalan bagi para mahasiswa kami, untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Ya, ini adalah cita-cita ku semenjak lama. Menjadi dosen praktisi. Aku bahagia dengan profesi ku saat ini. Dengan begini, aku masih dapat melanjutkan aktivitas lama ku yang sangat ku rindu ketika belum melakukannya lagi. Menulis catatan.

Sampai saat ini??? Bagaimana bisa?

Begitulah teman, meskipun saat ini aku sudah berganti profesi, namun catatan masih menjadi sahabat sejati. Karena bagiku, catatan adalah salah satu sarana yang dapat aku pergunakan untuk mengalirkan suara hati. Termasuk membagi energi yang ingin aku bagikan.

Pernah pada suatu hari, ketika aku masih bekerja dulu, aku sangat sangat sangat ingin mengalirkan isi hatiku. Isi hati yang sudah penuh dan ingin segera keluar itu, belum dapat aku alirkan, ternyata. Karena aku sedang tidak berada di hadapan catatan yang siap menampungnya kapan saja. Namun saat itu, catatan ku jauh dari ku. Karena aku sedang berada di hadapan bos ku. Aku sedang berada di hadapan beliau.

Ada apa di antara kami?

Sebuah kalimat yang beliau alirkan, menjadi jalan memuncaknya inspirasi ku. Panas kepalaku dibuatnya, hingga wajah ku ‘mungkin’ sudah memerah. Akan tetapi, aku tidak mampu melihat wajah ku saat itu. Karena kebetulan pula, aku tidak segera dapat bercermin pada saat yang sama. Padahal, aku adalah insan sama seperti engkau, teman. Aku juga mempunyai perasaan, aku berpikir, aku ingin berbuat. Dan aku, yang saat menerima kalimat dari beliau, ingin menjawab. Namun aku tidak kuasa. Setelah sebelumnya, ku sampaikan jawaban yang mampu aku uraikan. Lalu, aku tidak dapat berkata-kata lagi. Hanya ku pandang dua bola mata beliau yang sangat teduh itu. Aku memandangnya seraya menyuarakan apa yang aku alami.

Ada suara yang aku sampaikan, namun beliau mungkin belum mendengarkan. Ada tatapan yang aku sampaikan, namun belum sampai pada mata beliau. Padahal, sudah dengan segala upaya aku mengungkapkannya.

Tidak ada suara yang lebih kuat nadanya, melebihi suara hati yang sedang berbicara. Tidak pula ada nada yang lebih tinggi melebihi tatapan mata yang sedang menyampaikan suara hati. Sehingga hanya tatapanku yang berbicara. Dan itu adalah suara tertinggi yang aku ingin sampaikan. Karena kelembutan hati, mampu meluluhkan tingginya nada suara yang sedang membahana. Dan aku membuktikannya.

Hatiku yang mudah tersentuh, akan segera bersuara. Bibirku yang mengatup, sesungguhnya ia ingin sampaikan nada dengan irama terindah. Namun, ketika engkau sedang berhadapan dengan sesosok wajah yang sedang bersuara dengan nada yang tinggi, maka diamlah. Diam. Dan temukanlah cara untuk meredam suara yang meninggi tersebut,” bisik hatiku.

Aku bersama wajah yang entah sudah seperti apa, masih belum mampu bersuara lagi. Dan memang karena saat itu, aku tidak ingin menyampaikannya. Karena aku tahu, apa gunanya berdebat dengan ‘bos’ sendiri. Beliau tetaplah seorang yang aku hargai. Aku memahami diriku sendiri. Aku memahami beliau yang sedang berdiri. Aku mengetahui akan hal ini, semenjak semula. Aku yang sedang duduk, tentu lebih mudah untuk meredam nada suara yang ingin aku sampaikan, segera. Sedangkan beliau yang sedang berdiri, alangkah baiknya untuk duduk dulu. Lalu, menenteramkan pikiran beserta hati. Namun yang telah terjadi tidak akan pernah kita hapus lagi. Termasuk sekalimat bahasa yang kita suarakan dengan nada yang mengalir, dan kita menyampaikannya pada beliau yang kita temui.

Aku tidak akan menyampaikan kalimat yang aku pernah dengarkan dan hatiku menghayatinya. Hingga akhirnya, luruhlah permata kehidupan dari kedua bola mata ini, beberapa saat kemudian. Aliran yang menderas bagai air terjun itu, tidak ku sanggup untuk mengelapnya. Hanya ku biarkan ia mengalir dengan bebas. Karena dengan cara demikian, aku yakin bahwa aku mampu melewatinya. Apalah guna menyampaikan nada suara, apabila semua itu akan membekas di dalam hati? Baiklah menyikapi dengan sebaik-baiknya. Karena bicara tak hanya dengan suara. Airmata juga bersuara.

Tidak perlu membutuhkan waktu yang panjang, hingga akhirnya nada-nada yang tinggi tadi pun meredam. Ia tidak lagi menggema ke sekeliling. Nada-nada tersebut pun berubah menjadi lembut. Lembuuutt, sangat. Dan nada suara yang demikianlah yang mampu membuat gemuruh jiwaku semakin menderu. Ditambah lagi, saat beliau menyapaku dengan memanggil potongan namaku. Itu pun menjadi pemicu hasratku untuk tidak lagi mau membendung suara jiwa. Aku sungguh terharu. Aku benar-benar tidak menyadari apa yang sedang terjadi saat itu. Aku seakan berada di ruang mimpi. So, aku lanjutkan saja ia.

Tidak henti air mata mengalir, hingga setengah jam kemudian. Ia terus menderu, membentuk aliran sungai. Lalu, titik-titik bening pun bermuara pada pangkuanku. Hingga basah lah sebagian jilbab ku yang menjuntai di dada. Namun aku tidak menghiraukannya. Aku sedang terbawa suasana.

***

Ada kebahagiaan tersendiri bagi siapa saja yang kita sapa, dengan memanggil namanya. Ada senyuman yang sedang mengembang di ruang hatinya, walaupun kita tidak dapat menatap langsung senyuman itu. Begitulah yang pernah aku alami. Dan semoga, pengalaman ku ini menjadi jalan hadirnya ingat ku untuk selanjutnya. Bahwa siapapun engkau, aku sangat suka memanggil namamu. Meskipun pada awalnya, aku menambahkan kata lain terlebih dahulu sebagai penghargaan untukmu. Karena engkau ku hargai. Seperti, Bapak A, Ibu B, Teteh C, Mas D, dan sebagainya. Namun yakin lah, bahwa A, B, C, D, dan atau huruf-huruf seterusnya yang mengikuti, adalah awal huruf dari namamu. Sekalipun aku melanjutkan di dalam hatiku. Dengan demikian, engkau akan tersenyum segera. Karena engkau menyadari, bahwa aku sedang mengingat namamu.

Buat engkau, yang pernah menjadi bagian dari perjalanan kehidupan ku hingga saat ini, namamu senantiasa ada di dalam hatiku.  Termasuk di dalam catatan ku ini. Catatan yang aku pergunakan untuk menyampaikan satu-dua-tiga kata sebagai pengikat hadirnya engkau dekat denganku. Maka, ketika kita sedang berjauhan raga untuk sementara, sesungguhnya kita senantiasa bersama. Setiap kali ingatan kita bertemu, tentu kita akan saling menyapa, “Bagaimana kabarnya hari ini?.”

***

Saat aku sedang berada di hadapan mahasiswa-mahasiswi ku yang cemerlang pikirnya, aku bahagia. Ketika aku menyaksikan mereka sedang bercengkerama dengan teman-temannya, aku tersenyum. Dari kejauhan, ku menyempatkan waktu untuk menyapa mereka dengan senyuman. Walaupun belum dapat berpandang mata lagi, ketika kami berjarak raga, namun aku ingin mereka ada dekat denganku. Maka, aku merangkai kalimat tentang mereka. Ya, karena aku bahagia, akhirnya kami dapat berjumpa. Walaupun sebelumnya, kami belum saling mengenal satu sama lain.

Kini, aku telah berusia tak lagi muda. Ingin ku adalah agar mereka dapat mengambil pelajaran dan menimba pengalaman seluas-luasnya ketika masih muda. Lalu, menuliskannya dalam catatan setiap harinya. Semoga mereka dapat mengikuti jejak-jejak ku yang terbaik. Dan meninggalkan jejak-jejak ku yang kurang baik. Karena tidak semua pengalaman itu adalah yang terbaik. Namun sebaik-baik pengalaman adalah yang pernah kita alami.

Mereka tidak harus mengalami hal yang sama, sebagaimana yang aku alami, dulu. Namun aku yakin bahwa mereka dapat seakan mengalami hal yang sama, ketika mereka menyediakan waktu untuk membaca catatan-catatan ku.

“Belajar dari pengalaman orang lain, sangat mengesankan. Karena kita tidak mesti mengalami apa itu pedih, kalau pengalaman itu berisi tentang kepedihan. Namun kita menjadi tahu, bahwa pedih itu ternyata tidak menyenangkan. Dan kita tidak mesti tersenyum atas pengalaman kurang menyenangkan yang orang lain alami. Namun kembalikanlah semua pada diri sendiri terlebih dahulu. Lalu, berdoalah. Agar kita tidak mengalami hal yang sama.”

***

20 tahun setelah saat ini, engkau akan menjadi apa dan siapakah dirimu saat itu? Adalah dirimu dua puluh tahun yang akan datang, bermula dari apa yang sedang engkau lakukan pada saat ini. Ya, memulainya hari ini. Dan dua puluh tahun lagi, aku sudah mempunyai biografi tentang kisah perjalananku dalam kehidupan ini. Semoga dapat menjadi kumpulan pesan yang tersenyum pada ku lagi, kalau pengalaman ku penuh dengan kebahagiaan. Lalu, untuk pengalaman yang ku tulis ketika tidak sedang tersenyum, semoga dapat menjadi jalan introspeksi diri. Kemudian mencamkan dalam hati, bahwa cukup! Cukup sampai di sini engkau bersama ku. Karena aku ingin tersenyum lebih indah lagi dalam sisa-sisa usia ku di dunia ini. Karena aku inginkan ia tersenyum pula padaku.

Dalam meneruskan perjalanan kehidupan saat ini, tidak mengapa kalau engkau seringkali menangis karena kesedihan di sekeliling. Namun, engkau masih mempunyai harapan, bukan? Harapan yang sedang engkau pandang. Harapan yang aku perhatikan juga. Ai! Harapan kita? Ha. Harapan yang segera menarik ingatan dan pandangan kita, akan keberadaannya yang sangat dekat. Ya, harapan itu, yakin lah bahwa ia sedang berada di sisi kita. Harapan yang segera mengangkat kaki-kaki kita agar ia mau bergerak. Harapan yang memandu jari-jari tangan kita untuk berlatih. Latihlah ia untuk menyampaikan suara hati yang kita punya. Latihlah ia untuk mengalirkan isi pikiran yang ingin kita tuangkan segera. Latihlah ingatan kita untuk segera mengambil peran. Agar, apa saja yang saat ini kita ingat, dapat menjadi prasasti perjalanan. Sebelum akhirnya, ia pun akan segera berlalu. Dan kita tidak akan dapat bersama dengan ingatan tersebut lagi, ketika ia benar-benar pergi.

Dan salah satu kisah yang aku uraikan pada awal, adalah salah satu bagian dari episode perjalanan kehidupan ku yang hingga saat ini masih teringat. Padahal, sudah beberapa hari yang lalu ia berlangsung. Sungguh, apabila aku tidak segera mengalirkannya dalam sebuah catatan -seperti saat ini-, maka aku akan keingetannnn….. bukan keringetannnnn…..

Oleh karena itu, biarlah lembar catatan saat ini aku jadikan sebagai tempat sampah yang siap menampungnya. Karena bagiku, pengalaman walau bagaimanapun wujudnya, tidak sia-sia. Hanya saja, aku belum dapat menemukan hikmah darinya. Bisa saja. Namun, ketika aku meneruskan perjalanan yang berikutnya, semoga ada pesan terindah yang dapat aku petik dari pengalaman tersebut. So, yang jelas, intinya di sini, aku hanya ingin menitipkan ingatan untuk sementara. Agar, ingatan ini segera meluah. Tak lagi memenuhi ruang ingatanku. Agar, aku dapat melangkah lagi dengan tatapan mata yang lurus dan jelas. Agar, pengalaman kemarin tak membayang-bayangi hari esok yang akan aku temui. Hanya karena ia belum mengalir dalam sebuah catatan.

Saat ini, aku lebih lega.

Karena masih banyak ingatan baru yang akan mampir di dalam pikiran ini. Akan ada catatan-catatan kehidupan berikutnya yang ingin aku titipkan di sini. Termasuk langkah-langkah yang mesti aku tempuh, untuk mewujudkan cita ku. Ya, cita untuk menjadi dosen praktisi. Dosen yang dapat menjadi jalan sampaikan ilmu pengetahuan bagi mahasiswa-mahasiswi ku, kelak.

Saat ini, ketika aku merangkai catatan ini, mahasiswi ku baru satu. Ialah Yet Yet, dengan nama asli Retno. Retno bilang, beliau turut mendoakan, semoga aku dapat menjadi seperti apa yang aku harapkan. Aamiin ya Rabbal’alamiin. 

Lalu, bagaimana denganmu, teman? Apakah apa yang sedang engkau jalani saat ini, sudah mencerminkan siapakah dirimu dua puluh tahun yang akan datang? Walaupun kita sama-sama tidak mengetahui tentang batas akhir usia kita di dunia ini. Namun dengan menuliskan cita seperti ini, kita akan bersemangat lagi untuk menjalani proses menempuh jalan menuju our future life.

Bersiaplah saat ini, berbuatlah detik ini. Lalu, perhatikanlah, bahwa semesta turut berdoa untukmu, teman. Engkau yang bukan siapa-siapa saat ini, itu hanya perasaanmu saja. Karena engkau berharga. Engkau bernilai. Dan nilai diri yang sedang melekat pada dirimu, sungguh tidak dapat terbeli dengan hitungan angka seberapa juga.

So, keep blank your mind everytime you wish. Then, do something for your life.  Have you get in your mind, who are you after 20 years later, friend?

🙂🙂🙂


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s