Muharram 1, 1434H


Ku lanjutkan perjalanan ini, dengan beribu rasa yang ku alami. Di awal tahun aku menemukan aura yang berbeda. Berbeda dari hari kemarin. Kemarin aku di sana, sedangkan saat ini aku di sini.

Dekat ingatan pada akhir kehidupan, pun menyelami lautan rasa. Ya, tepatnya setelah aku lompatkan pikir ke arah masa depan. Masa depan adalah masa yang akan kita jalani.

Saat ini, aku tersentuh. Lagiiii. Sehingga mengalirlah bulir permata kehidupan dengan derasnya. Tak sanggup aku membendungnya, so hanya ku biarkan ia berguguran setetes demi setetes. Kisah ini tentang memaknai air mata. Ia yang bersedia mengalir kapan saja.

Masih dapat aku meraih beberapa peralatan yang menjadi sarana bagi ku untuk meluruhkan segala rasa. Meskipun dengan upaya yang sangat optimal. Aku masih ingin menitipkan jejak, sekalipun kondisi tubuh sedang ‘meriang’. Engkau pernah mengalami kondisi yang serupa kah?

Tak ingin ku sebut sebagai sakit, karena aku yakin, bahwa hatiku tersenyum saat ini. Ia yang ku rasakan mengembang seringkali, sesungguhnya sedang menetralisasi suhu tubuhku. Suhu yang semakin meninggi, membuatku ingin terus menyandarkan kepala ini pada tempat terempuk.

“Met Rehat,
Semoga cepat sehat,
Ya… Sahabat,” bisik sekeping hati ku yang tersenyum pada raga.

Lalu, aku pun mengabadikannya di sini. Agar pada suatu hari aku kembali menyadari. Bahwa mereka masih saling menyapa, walaupun salah satunya sedang berjuang untuk mengalahkan virus-virus yang berkuasa.

***

“Apa kabarnya?,” tanya pemateri dalam pertemuan kami semalam di Pusdai.

“Tetap semangat!,” jawab kami. Jawaban yang semenjak awal telah beliau persiapkan sebagai tanggapan kami. Setiap kali beliau menyapa para peserta yang terlihat tak lagi antusias. Ai! Memang ada pesan tersirat yang terselip pada setiap keadaan, untuk kita. So, dalam berbagai kesempatan, teman… ‘Tetap lah Semangatt!”

“Oke, insya Allah…,” bibir ku yang semenjak tadi mengatup akhirnya membuka juga. Ia bersuara, meski tak begitu terdengar. Karena ia lemah.

Raga boleh lemah, lelah atau berkata bahwa ia letih. Namun ketika kita ingin terus melanjutkan perjalanan dalam kehidupan ini, ia mesti mengalah. Karena masih ada sesudut hati yang bersuara untuk menyapanya, setiap kali ia tanpa suara.

Bergeraklah!
Karena dengan pergerakan, engkau menjadi tahu apa saja yang mesti engkau kerjakan.

Melangkahlah!
Karena dengan tetap melangkah walaupun ragamu berkata lemah, maka engkau akan sampai pada tujuan yang engkau dambakan.

Tersenyumlah!
Walaupun wajahmu begitu berat untuk mengembangkan senyuman. Karena dengan tersenyum, engkau sedang berlatih untuk mensyukuri keadaan.

Bangunlah!
Bangunkanlah jiwamu. Walaupun ragamu masih belum sanggup untuk membuka mata. Meskipun matamu tidak akan membuka lagi untuk selama-lamanya. Bangunkanlah ia lebih sering, semenjak saat ini.

🙂🙂🙂

Engkau yang awalnya satu. kini tak lagi begitu. Ada yang senantiasa bersamamu dalam melangkah. Buka mata, lalu melihatlah. Optimalkan fungsi telinga, lalu mendengarlah. Raba hati, lalu rasakanlah apa yang sesama rasakan. Indera penciuman, ada pada hidungmu. Pedulilah pada lingkungan. Ada kulit yang membentang luas pada dirimu, itulah alam.
Renungkanlah…”

~ Marya Sy ~


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s