Ok!


Jiwa ku bersuara

Jiwa ku bersuara

Ya, semestinya begitu. Engkau perlu tahu apa saja yang mesti engkau lakukan. Kapanpun waktunya.

Aku paksa ia agar mau menghabiskan menu makan siang hari ini. Menu yang semenjak semula hanya ia tatap dengan pandangan mata yang redup. Sedangkan aku tahu bahwa perutnya sedang lapar. Namun, ia seakan tidak bersemangat untuk menyentuh makanan yang telah tersaji.

Masih belum bergerak jemarinya. Meskipun sudah beberapa menit duduk di kursi. Lalu, aku pun mendekatinya. Lalu, meraih pundaknya. Aku menempelkan telapak tangan ini pada pundaknya yang lengkung. Ku sampaikan padanya beberapa baris pesan untuk ia pahami, begini:
– “Engkau saat ini jauh dari keluarga. Lalu, kalau engkau kenapa-kenapa? Sungguh sangat jauh ragamu melangkah untuk memberi kabar keluarga di sana. So, makanlah…,” bujukku.
– “Engkau adalah seorang yang sangat beruntung. Bagaimana tidak? Karena tidak semua orang mempunyai kesempatan yang sama denganmu. Ingatlah, untuk mendapatkan sesuap nasi, mereka perlu berjuang keras terlebih dahulu. Sedangkan engkau? Engkau tanpa perlu menitik keringat menyediakan makanan untuk makan siang, sungguh perlu bersyukur. Ini rezeki, friend…, syukurilah,” bisikku di telinganya.
– Aku adalah doktermu hari ini. Maka aku menyarankan agar engkau menikmati menu makan siang ini dengan baik. Agar kesehatan mu kembali. Walau sebenarnya, engkau sehat tidak dengan makan saja. Namun dengan makan teratur, maka engkau sedang menempuh jalan menuju sehat dan bugar.

“Ok!,” jawabnya singkat.

Lalu, ia pun menyuap satu persatu menu yang tersedia. Dengan tidak banyak bicara, tentunya. Karena aku sedang memperhatikannya dan mengawasi. Kalau akhirnya geraknya berhenti, itu hanya untuk sementara saja. Karena ia sedang menarik nafas dengan ringan di antara jeda waktu menyantap menu.

Sempat ku melihat, airmata yang mulai mengembang pada sudut-sudut matanya. Airmata yang seakan mau runtuh, hampir saja keluar. Namun ternyata airmata itu tidak jadi menitik. Karena ia kembali ke dalam, lagi. Mungkin ia sedang memikirkan sesuatu. Sedangkan aku tidak mampu mengetahui apa yang sedang ia pikirkan ketika itu.

🙂🙂🙂

Engkau yang awalnya satu. kini tak lagi begitu. Ada yang senantiasa bersamamu dalam melangkah. Buka mata, lalu melihatlah. Optimalkan fungsi telinga, lalu mendengarlah. Raba hati, lalu rasakanlah apa yang sesama rasakan. Indera penciuman, ada pada hidungmu. Pedulilah pada lingkungan. Ada kulit yang membentang luas pada dirimu, itulah alam.
Renungkanlah…”

~ Marya Sy ~


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s