Familier


Lantai 1 dan 2

Lantai 1 dan 2

“Pikirkan segala kemungkinan yang dapat berakibat fatal bagi keselamatan,” ungkap Bapak Darsono pagi tadi.

Bapak Darsono adalah orang tua kami di sini. Beliau adalah pemilik kost-kostan di mana kami sedang bernaung untuk saat ini. Sebuah pesan singkat pada pagi hari, sempat beliau selipkan pada kami. Kami yang sedang berkumpul. Beliau yang sedang mengawasi kami.

Rutin. Ya, rutin beliau berkeliling dan berjalan-jalan ke belakang, di lokasi tempat kami berada. Walaupun kami adalah para perempuan semua. Karena dalam anggapan kami, beliau telah mengibaratkan kami sebagai para bidadari yang perlu beliau selamatkan. Karena kami adalah bagian dari lingkungan beliau. Walaupun terkadang, ada di antara kami yang berpandangan lain terhadap aktivitas beliau saat berkunjung. Namun, di sisi lain, kami perlu memahami. Bahwa beliau telah lebih tua dari segi usia dibandingkan dengan kami. Tentu saja ada berbagai alasan yang menjadi jalan hingga beliau terus-terusan memberikan pengawasan kepada kami.

Kami, adalah para penghuni sementara di lingkungan keberadaan beliau. Kami adalah para perempuan yang datang ke sini hingga bersama dengan beliau, untuk melanjutkan cita merengkuh asa. Dan kost-kostan yang beliau jadikan sebagai sarana penginapan bagi kami, adalah tanggung jawab beliau sepenuhnya. Oleh karena itu apapun yang terjadi dengan kami, beliau perlu mengetahui. Dan di sini, beliau tidak hanya sekadar tahu, namun lebih.

Keakraban dan kekeluargaan. Ya, dua kata ini adalah cerminan dari kebersamaan kami. Hal ini terasa sangat (bagiku khususnya) pada pagi tadi. Tepatnya, ketika beliau untuk ke sekian kali berkunjung untuk mengawasi kami. Dan di sela-sela waktu yang kami jalani bersama, beliau menitipkan kalimat pada awal catatan kali ini. Tentang kemungkinan dan keselamatan.

Bagaimana bisa? Beliau mengalirkan kalimat tersebut dari suara bijak sosok Bapak? Padahal kami bukanlah putra-putri kandung beliau. Padahal kami baru bertemu beliau setelah kami berada di sini. Padahal, sebelumnya kami tidak mengenal siapa beliau. Padahal… padahal, siapalah kami bagi beliau.

Tidak ada yang mengakhiri kalau bukan ada yang mengawali. Dan kalimat tersebut berawal dari kami juga siiicc.. Hehee.😀 Begini ceritanya.

“Kost-kostan kami terdiri dari dua lantai, yaitu lantai satu dan lantai dua. Dan setiap lantai akan langsung berhadapan dengan halaman yang membentang. Walaupun tidak terlalu luas, namun halaman tersebut dapat menjadi jalan bagi kami untuk dapat langsung menghirup segarnya udara setiap hari. Sehingga ruangan demi ruangan tidak pengap. Di depan setiap ruangan, terdapat sarana untuk menggantung pakaian. Ada teras kecil bukan untuk tempat duduk-duduk. Pun ada lantai sederhana yang pada sore hari kami manfaatkan untuk berkumpul. Kalau aku dan Retno, memanfaatkan teras kecil kami untuk melihat rembulan yang purnama pada malam ke empat belas, kalau tidak hujan tentu saja. Sedangkan pada malam yang lainnya, kami pergunakan untuk menatap bebintang atau jentikan sinar kilat yang sedang menyambar ketika hujan. Dan yang lebih sering, kami biarkan begitu saja. Karena kami lebih enak kalau duduk-duduk di dalam ruangan. Dan ini adalah pilihan terbaik ketika hujan mulai menetes ke alam. Tadi pagi, Bapak Darsono melihat pada bagian pinggir teras lantai 2 (dua) terdapat beberapa buah piring berbahan kaca, sedang berjejer. Dan beliau mengungkapkan kalimat yang berikutnya, “Nah! Coba Anda perhatikan, jejeran peralatan yang disimpan di pinggir teras. Coba pikirkan tentang kemungkinan yang akan terjadi. Bayangkan kalau piring tersebut jatuh lalu di bawah sedang ada yang lagi jalan. Sudah terbayang, kah?”. Ada kalimat-kalimat bijak yang penuh dengan pesan, beliau sampaikan. Ada gerakan pada ruang pikirku, segera. Ada suara yang segera ingin aku sampaikan. Namun suara tersebut tertahan, berganti dengan senyuman yang mengembang di lembaran pipi. Aku tersenyum, para teman pun bersenyuman. Mungkin mereka sedang memikirkan hal yang sama dengan apa yang aku pikirkan. Bahkan bisa jadi berbeda. Dan bagiku, kalimat yang Bapak Darsono sampaikan, segera ku selipkan di ruang ingatan. Aku ingin mengabadikannya segera.  Kemudian, bergegas ku menuju lantai dua. Ke lokasi di mana aku seharusnya berada. Karena tadi, ketika beliau menitipkan kalimat tersebut, aku sedang berada di lantai satu, untuk sebuah keperluan. Terima kasih ya, Bapak, telah menjadi jalan ingatan. Ingatan yang ingin segera aku prasastikan, di sini. Karena aku sangat ingin membacanya lagi, ketika kami tidak lagi bersama, seperti saat ini. Semoga catatan ini menjadi jalan ingatan ku terhadap beliau, Bapak Darsono. Beliau yang peduli akan keselamatan kami. Kami yang terkadang, belum memikirkan tentang hal itu.”

Kita akan dapat menemukan rangkaian kalimat yang penuh pesan dan itu berkesan, dari beliau yang telah mengalaminya. Baik dari pengalaman yang beliau peroleh sendiri, maupun dari kejadian ataupun keadaan yang pernah beliau perhatikan. Camkanlah baik-baik, setiap tetes kalimat yang engkau terima dari orang tua, karena orang tua adalah seorang yang usianya lebih dari engkau. Sedangkan pengalaman beliau tentang kehidupan, tentu lebih dan banyak adanya. Beliau yang peduli adalah beliau yang mau berbagi. Berbagi walaupun sebaris kalimat, dari hati. Beliau yang menitipkan pesan, sekalipun dengan ekspresi. Dari pandangan mata, contohnya.

🙂🙂🙂


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s