Ya Allah…


YA

YA

Sore yang indah untuk sebuah perpisahan. Ya, hari ini kami akan kembali berpisah untuk sementara. Dan semoga masih ada kesempatan bagi kami untuk kembali bersua setelah saat ini. Sebelumnya, tidak lupa kami berpotret terlebih dahulu.

Dalam perjalanan, setelah kami benar-benar berpisah aku pun naik angkot. Ya, betul. Angkot berwarna orange yang dapat menjadi jalan sampaikan aku pada tujuan lebih cepat, insyaAllah. Pada saat angkot sudah berhenti tepat di hadapan ku, aku pun segera naik. Namun apa yang aku temui di dalamnya? Aku tidak menyangka. Seorang laki-laki yang masih muda, sedang asyik dengan kepulan asap yang sedang beliau hirup dan hembuskan dengan bahagianya. Sedangkan pada saat yang sama, Pak supir pun segera melaju. Aku ga mau sebenarnya dengan suasana yang sama. Namun aku sudah terlanjur. Tepat di samping kiri ku, beliau sedang duduk. Masih asyik saja, kiranya.

Aku mengedarkan arah pandang ke sekeliling. Angkot hampir penuh. Dan suasana tersebut sangat membuat ku tidak nyaman. Ah… Aku ingin nangis saat itu juga. Namun air mata ku belum muncul. Aku pun memandang sendu pada keadaan. Sedangkan bibir ku tak sanggup berkata apa. Aku diam saja. Aku… Aku… Aku mau turun saja, segeraaaa. Padahal baru beberapa jarak. Dan memang belum sampai tujuan. Ku coba bertahan dengan keadaan untuk beberapa lama. Akhirnya aku kalah!!!

“Di sini ya Pak,” sapa ku pada supir yang sedang melaju.

Setelah angkot berhenti dengan damai dan benar-benar diam, maka aku pun segera bergerak. Aku turun. Aku ingin kesegaran, itu saja.

Beberapa saat setelah kaki ku menginjak tanah, aku benar-benar nangis. Huwaaaaa… Aku sedih dengan keadaan. Aku sedang ga mood, tadi.

Aku hirup udara sebanyak-banyaknya. Dan kebetulan pada saat yang sama, tidak jauh dari tempat aku berdiri, ada sebatang pohon yang rindang daunnya. Aku segera mendekati sang pohon yang sedang tersenyum. Aku menyambut senyumannya. Aku tersenyum karena pohon melambaikan dedaunannya ke arah ku. Aku terima kesegaran yang mengalir via tiupan angin yang sepoi.

Aku legaaaa.

Aku berdiri dengan bahagia. Menunggu adalah aktivitas yang aku lakukan. Aku menunggu angkot yang lain, di bawah sebatang pohon yang rindang.

Beberapa menit kemudian, harapan ku pun bermekaran. Sebuah angkot berwarna orange sedang bergerak, mendekat ke arah ku. Aku bahagia, akhirnya ia datang juga. Ini berarti penantian ku akan segera berakhir. So, aku jaga saja harapan itu sampai akhirnya sang angkot benar-benar dekat.

***

Kini… Aku sedang duduk manis di dalam angkot ke dua. Aku memilih duduk di samping supir yang sedang menyetir. Dengan begini, aku dapat memandang lepas ke depan. Dan dapat pula menyaksikan dengan jelas apa yang sedang terjadi di sepanjang perjalanan.

Beberapa menit, aku diam saja. Untuk hitungan menit yang ke sepuluh, aku kembali ingin bersuara. Karena ternyata, supir juga terlihat melakukan hal yang sama. Beliau membakar sebuah benda yang akhirnya dihisap. Beliau lalu menghirupnya hingga berasap-asap. Kepulan asapnya semakin ramai, membumbung tinggi. Lalu memantul pada tepi pintu yang sedang menutup. Untung beliau membuka kaca pintu depan dengan sangat lebar. Sehingga asap pun segera beterbangan tanpa pamitan.
Aku kembali tersiksa! Ha! 😀

Inikah dunia?

***

Ada hal yang tidak kita suka, ternyata kita ada bersamanya. Ada lingkungan yang kita damba, namun hanya sekejap dengannya. Sehingga kita perlu terus terjaga. Kita perlu menyadari keadaan. Dan kita mesti senantiasa bersiap untuk segala kemungkinan. Mungkin saja kita segera beralih dari keadaan yang tidak kita suka. Agar kita dapat menemui keadaan yang baru dan berbeda. Namun kita tidak dapat menerka. Bahwa keadaan berikutnya akan sesuai dengan yang kita damba. Karena kita masih ada di dunia. Dunia yang kita tempati bersama.

Satu dunia untuk semua. Ya, dan kita sedang berada di dalamnya. Selama ada di dunia, alangkah baik kalau kita saling bertenggang rasa. Kita perlu pedulikan sesama. Kita mesti memahami suasana. Karena terkadang apa yang kita senangi, belum tentu yang lain suka. Demikian pula sebaliknya. Intinya adalah — memahami sesama.

Kita hidup tidak dengan diri kita saja yang dapat kita penuhi apa inginnya. Kita ada bersama insan lain yang juga mempunyai rasa, mampu berpikir dan dapat bersuara. Kita sama-sama hamba-Nya. Ya, Pencipta kita satu adanya. Oleh karena itu, semoga keadaan yang bagaimana pun dan kita alami, dapat mengingatkan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala, yaa… Agar kehidupan yang kita jalani semakin terasa indahnya. Dan kita dapat menemukan makna serta hikmah dari waktu ke waktu.

Adapun pesan yang ingin saya titip saat ini::: “Tolong… Lestarikan tenggang rasa. Karena kami wanita. Kami punya rasa. Rasa yang perlu kami jaga. Sebelum ia melimpah melalui air mata. Karena terkadang kami tak mampu mengalirkan suara untuk mencurahkan rasa. Itu saja.”

🙂🙂🙂

Engkau yang awalnya satu. kini tak lagi begitu. Ada yang senantiasa bersamamu dalam melangkah. Buka mata, lalu melihatlah. Optimalkan fungsi telinga, lalu mendengarlah. Raba hati, lalu rasakanlah apa yang sesama rasakan. Indera penciuman, ada pada hidungmu. Pedulilah pada lingkungan. Ada kulit yang membentang luas pada dirimu, itulah alam.
Renungkanlah…”

~ Marya Sy ~


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s